Pada suatu hari, Juha memendam uang-uangnya di padang pasir. Setelah itu Juha melihat awan yang tepat di atasnya, dan menjadikannya sebagai tanda di mana dia memendam uang-uangnya.
****
Abahnya Juha pergi ke Mekkah untuk ibadah haji. Maka Juha berpesan kepada abahnya sebelum pergi, “Demi Allah, Abah jangan pergi lama-lama. Berusahalah supaya Abah bisa bersama kami ketika hari raya.”
****
Abahnya Juha meninggal. Ada yang berkata kepadanya, “Pergi, dan belilah kain kafan!” Juha menjawab, “Aku khawatir kalau aku yang membeli kain kafannya, aku nanti terlambat untuk mensholatkannya”
****
Juha mendengar seseorang berkata, “Alangkah indahnya bulan itu!” Juha menimpali, “Tentu saja, terutama di malam hari!”
****
Seseorang berkata kepada pelayannya, “Keluar dan lihatlah, apakah cuaca sedang cerah atau mendung?” Pelayannya keluar dan kemudian kembali seraya berkata, “Demi Allah, di luar sedang hujan. Aku tidak bisa melihat apakah sekarang mendung atau cerah!”
****
Seorang pedagang sukses, mempunyai anak yang dungu. Pada suatu hari, peti-peti yang berisikan barang-barangnya dicuri orang. Dia tertunduk sedih. Orang-orang menghiburnya dan mendoakannya agar dia diganti dengan yang lebih baik. Tiba-tiba anaknya datang dan heran melihat banyak orang. “Ada apa ini?” “Seseorang telah mencuri peti-peti bapakmu”. Tiba-tiba anak ini tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Tenang saja, barang-barangnya aman!”. Orang-orang heran, menyangka bahwa dialah yang menyembunyikan peti-peti tersebut. Bergegas mereka memberitahu bapaknya. Bapaknya berkata kepada anaknya, “Kabarkan kepadaku apa yang kau ketahui!” Masih tertawa anak ini menjawab, “Bapak tenang saja! Barang-barang kita aman. Kunci peti-peti itu aku yang pegang!”
****
Abdullah bertanya kepada seseorang, “Sekarang tanggal berapa?” Orang itu menjawab, “Ma’afkan aku, aku bukan orang sini”
****
Ibunya Abdullah meninggal. Orang-orang datang untuk melayat. Tiba-tiba seseorang yang dikenal pandir masuk sambil tertawa riang dan menyalami Abdullah. Orang-orang heran kenapa dia malah tertawa. Abdullah bertanya, “Kenapa Engkau tertawa?” Si Pandir menjawab, “Tadinya aku sedih, karena yang aku dengar Engkaulah yang meninggal. Ternyata cuma ibumu yang sudah tua itu saja yang meninggal!”
****
Abul Anbas berkata, “Aku melewati sebuah jalan untuk keperluanku. Tiba-tiba seorang perempuan menghampiriku dan berkata, “Maukah Engkau aku nikahkan dengan seorang gadis dan Engkau mendapatkan seorang anak laki-laki darinya?” Aku menjawab, “Tentu saja!”. Dia berkata, “Kemudian Engkau menitipkan anakmu kepada juru tulis, kemudian anakmu pergi bermain, naik ke atas atap, terjatuh dan kemudian mati!” Perempuan ini menjerit-jerit, “Aduh celaka!” dan menampar-nampar mukanya sambil histeris. Aku berkata, “Ini perempuan gila!”. Akupun kabur darinya sampai aku berjumpa dengan seorang kakek yang sudah tua di depan rumahnya. “Kenapa Engkau berlari anakku?” Dia bertanya. Akupun menceritakan kisah yang aku alam. Ketika aku ceritakan bahwa perempuan itu menampar-nampar mukanya, si kakek itu adalah perkara yang besar. Dia berkata, “Kalau menangis, itu memang sudah semestinya bagi seorang wanita ketika dia mendapatkan kematian!” Ternyata si kakek lebih bodoh dan lebih pandir.
****
Seorang pandir menatap heran ke arah menara masjid yang sangat tinggi. “Alangkah tingginya orang yang membangun menara tersebut!” Yang lain berkata, “Diam, dasar bodoh! Apakah engkau mengira ada yang setinggi itu di dunia? Mereka membangunnya di atas tanah, baru kemudian dinaikkan!”
Di sadur dari, “Akhbarul Hamqo wal Mughaffaliin” karangan Al Imam Ibnul Jauzy rahimahullah dengan penyesuaian bahasa.
Filed under: Santai Sejenak

Terimakasih akhi atas artikelnya, sangat bagus… http://adanipermana.co.cc
kisah yang sangat mendorong kita untuk merenung. ^^.
terus berkarya yah….